Wednesday, May 3, 2017

Peringatan May Day Anti Maintsream

Fashion Show Buruh di Purbalingga


bupati Purbalingga memberikan piala kepada pemenang

PURBALINGGA, Hari Buruh Internasional atau "May Day" umumnya diperingati dengan unjuk rasa yang kebanyakan berakhir ricuh, namun para buruh di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mempunyai cara sendiri yang anti mainstream dalam peringatan Hari Buruh atau May Day tahun 2017 ini. Bukanya ikut - ikutan demo, mereka justru asyik melenggak lenggok unjuk kebolehan dalam Lomba Fashion Show di Pendapa Dipokusumo, Senin (1/5/2017).

Satu per satu tim perwakilan dari 36 perusahaan di Purbalingga tampil apik di atas catwalk.

Layaknya model profesional, busana yang mereka kenakan juga istimewa, yaitu kebaya tradisional Banyumasan.

(Baca Juga : Rekor Unik di Purbalingga)

Tak hanya fashion show, Pemerintah Kabupaten Purbalingga menggelar rangkaian program lain seperti donor darah, lomba administrasi LKS, dan acara puncak sarasehan buruh bersama bupati.


“Kami bersyukur peringatan 'May day' tahun ini berlangsung kondusif. Rangkaian acara ini juga sebagai simbol keharmonisan antara buruh, perusahaan, dan pemerintah,” kata Bupati Purbalingga Tasdi.

Untuk diketahui, sebagai kota industri, penyerapan tenaga kerja di Purbalingga tergolong besar.

Dari 380 industri, sedikitnya menyerap 52.556 buruh yang kebanyakan berdomisili tetap di Purbalingga.

Tuesday, May 2, 2017

Stadion Goentoer Darjono


Stadion Gelora Goentoer Darjono

Tampak depan Stadion Goentoer

Stadion merupakan salah satu fasilitas penting yang harus dimiliki oleh sebuah wilayah. Selain fungsinya sebagai venue sepakbola, stadion juga memiliki manfaat yang lain. Lahan parkir stadion dapat digunakan sebagai pusat olaraga lain seperti voli, basket, bulutangkis, takraw, dll. Tak hanya jenis olahraga seperti diatas, lahan parkir maupun jalan melingkar di sisi stadion juga dapat digunakan sebagai venue olahraga otomotif. Drag bike, Roadrace, Drift, maupun atraksi atraksi otomotif dapat memilih lokasi di area stadion.
Dengan adanya stadion pada suatu wilayah, masyarakat sekitar juga dapat menggunakannya sebagai ruang publik. Kegiatan sederhana seperti jogging, senam, bersepeda, dan kegiatan lainya dapat menjadi pilihan masyarakat dalam pemanfaatannya.

Di Purbalingga sendiri, stadion Gelora Goentoer Darjono telah memberikan semua fungsi dan manfaat diatas. Stadion ini merupakan sarana olahraga yang lengkap. Setiap gelaran Pekan Olahraga Daerah (Porda) cabang olahraga utama seperti sepakbola, voli, dan Atletik dilangsungkan disini. 

Lokasi Stadion Goentoer Darjono Purbalingga

Lokasinya yang berada di pusat kota menjadikan stadion ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat. Acara - acara hiburan sering diadakan di lahan parkir stadion Gelora Goentoer Darjono. Acara Konser, Pameran, sampai Pasar Malam dipusatkan disini. 

Stadion yang diresmikan pada 25 November 2009 bernama Gelora Goentoer Darjono merupakan markas dari Klub sepakbola kebanggaan warga Purbalingga yaitu PERSIBANGGA. Stadion ini mampu menampung hingga 15000 penonton. Hanya ada dua kelas penonton di Stadion Goentoer, yaitu tribun kelas VIP dan kelas umum. Animo masyarakat Purbalingga terhadap sepakbola memang cukup tinggi. Stadion Goentoer selalu ramai dipadati penonton ketika PERSIBANGGA bertanding. Suporter BRALINK MANIA selalu hadir mendukung Klub kebanggaannya bertanding.

Saat ini (2017) PERSIBANGGA Purbalingga berkompetisi pada Gojek Traveloka LIGA2. LIGA2 merupakan kompetisi kasta ke dua dibawah LIGA1. Harapan kedepan adalah menyaksikan PERSIBANGGA Purbalingga berlaga di kompetisi tertinggi Indonesia di Stadion Goentor Darjono. 

Monday, May 1, 2017

Rekor Terbaru yang Dipecahkan oleh Purbalingga



Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI)
didirikan pada tanggal 27 Januari 1990 di kawasan perindustrian Jamu Jago, Srondol, Semarang Selatan. Berdirinya MURI diresmikan oleh dua Menteri Koordinator Republik Indonesia, Menko Kesra Soepardjo Roestam dan Menko Polkam Soedomo. Tak hanya itu, peresmian MURI juga disaksikan oleh Ketua PMI, Ibnu Sutowo dan Gubernur Jawa Tengah, Ismail.


Jaya Suprana memprakarsai berdirinya Museum Rekor Indonesia, yang sekarang dikenal dengan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) di Semarang. MURI ia dirikan demi menegakkan pilar-pilar kebanggaan nasional bangsa Indonesia agar bangsa Indonesia mampu dan mau menghargai karsa dan karya bukan bangsa asing, namun bangsa Indonesia.


Kabupaten Purbalingga telah banyak menciptakan rekor MURI. Bermula pada era bupati Triyono Budi Sasongko dan sekarang dilanjutkan kembali oleh bupati Tasdi. Berikut Rekor MURI terbaru yang dipecahkan oleh Purbalingga :



1. Menanam Cabai Rawit Terbanyak

 Penanaman Cabai Rawit

Pada 11 April 2017, acara yang berpusat di Alun-alun diikuti oleh tidak kurang dari 1.250 orang ibu rumah tangga. Mereka menanam 4 batang cabai rawit sehingga total yang ditanam sejumlah 5.000 batang. Selain di Alun-alun, di halaman 17 kecamatan se-Purbalingga juga dilaksanakan hal serupa secara serentak dengan melibatkan peserta 250 orang ibu rumah tangga sehingga yang ditanam 1.000 batang pohon per kecamatan. Total, ada 5.500 ibu - ibu menanam 22.000 batang pohon cabai rawit alias cengis di Purbalingga hari itu.

Oleh karena pesertanya semuanya perempuan dan sebagian besar ibu rumah tangga, acara tersebut diberi jargon "Macan Manis" alias Mama Cantik Menanam Cengis. Tak sia-sia, aksi para ‘macan’ itu diganjar dengan penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai kegiatan menanam cabai rawit oleh ibu rumah tangga terbanyak.




2. Pembangunan Jamban Serentak

Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah kembali mengukir rekor. Pembangunan jamban serentak sebanyak 4.444 buah masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).

Penghargaan MURI diberikan dalam pencanangan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) di Museum Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman, Selasa (15/11/2016)




3. Membawa Tempat Air dari Bambu Terbanyak

Para peserta membawa Lodong

Kali ini, Pemkab Purbalingga menciptakan rekor MURI dalam rangkaian pembukaan Festival Gunung Slamet (FGS) yang digelar selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Oktober 2016.

Dalam agenda tersebut, MURI mencatat rekor terbanyak dan terunik dengan membawa lodong atau tempat air berbahan bambu sebanyak 777 buah. Deputi manajer MURI, Ariyani Siregar menjelaskan banyaknya lodong yang diarak tersebut telah memecahkan rekor MURI dan tercatat dalam rekor yang ke-7.638.




4. Tes Urine Terbanyak

Rekor MURI terakhir yang digagas Tasdi-Tiwi adalah melakukan tes urine untuk 4.058 orang. Pemecahan rekor ini disaksikan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional, Budi Waseso pada 10/10/2016

Rekor tersebut sebelumnya dipegang Pemerintah Kota Malang dengan 1.740 peserta tes urine. Namun berhasil dipecahkan oleh Purbalingga. "Setelah kami verifikasi peserta tes urin tercatat 4.058 peserta," kata Widayati.




5. Ibu Menyusui Terbanyak

Rekor MURI untuk ibu menyusui terbanyak sebelumnya dipegang oleh Kabupaten Banyumas. Rekor itu hanya bertahan selama tiga tahun.

Namun, pada 11 Agustus 2016, Purbalingga sebagai kabupaten tetangga Banyumas berhasil memecahkan rekor tersebut. Sebanyak 1.471 ibu menyusui ikut kegiatan tersebut di GOR Mahesa Jenar.




6. Menari Tari Turi-Turi Putih

Pada 5 Mei 2016 sejumlah 8.565 anak usia dini menari massal Turi-turi Putih di Stadion Goentoer Darjono Purbalingga. Rekor ini merupakan catatan rekor MURI ke-7421. Tarian tersebut merupakan tarian khas Purbalingga.

(Baca juga : Knalpot dan Sanggul Raksasa terbesar di Dunia)


7. Buruh Memakai Kebaya di Hari Kartini

Pada peringatan Hari Kartini, 21 April 2016, Purbalingga kembali mencatatkan rekor MURI dengan tajuk pemakaian kebaya terbanyak oleh buruh. Buruh yang ikut dalam kegiatan tersebut mencapai 12.956 orang dari empat pabrik rambut palsu.

Eksekutuf Manager MuRI, Sri Widayati mengatakan, rekor yang terciptakan kali ini merupakan rekor dunia untuk kategori pekerja wanita terbanyak yang tetap melakukan aktifitasnya saat mengenakan kebaya.




8. Perayaan Ulang Tahun Terbanyak

Selain mencatatkan diri sebagai pasangan kepala daerah berulang tahun sama, di hari yang sama juga tercatat rekor baru yakni perayaan ulang tahun terbanyak. Aksi ini diikuti oleh 3.202 orang dengan tanggal lahir 11 April.

"Perayaan ini baru pertama di MURI. Kami mencatatnya sebagai rekor perayaan ulang tahun bertanggal lahir sama dengan jumlah terbanyak yakni 3202 orang, sehingga menciptakan rekor baru," kata Sri Widayati dari pihak MURI.




9. Kepala Daerah dengan Tanggal Ulang Tahun Sama

Tasdi-Tiwi merupakan pasangan kepala daerah yang memiliki tanggal lahir sama yakni, 11 April. Atas kesamaan itulah, MURI mencatatkan mereka sebagai pasangan kepala daerah dengan tanggal dan bulan lahir yang sama.

Manager Eksekutif MURI, Sri Widayati mengatakan, Tasdi-Tiwi merupakan pasangan kepala daerah yang bertanggal lahir sama dan belum ada di MURI. "Ini menjadi rekor MURI yang ke-7381," ujar dia.



Sunday, April 30, 2017

Rekor Dunia di Purbalingga

Rekor Dunia

Selain rajin mencatata rekor MURI, Purbalingga juga memiliki Rekor Dunia yang sampai saat ini belum terpecahkan. Berikut adalah Rekor Dunia yang dibuat oleh Purbalingga

1. Knalpot Raksasa Terbesar di Dunia


Knalpot Raksasa saat dipamerkan

Knalpot Raksasa itu dibuat tahun 2003 oleh perkumpulan perajin knalpot di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Knalpot itu dibuat seberat 1,1 ton dengan panjang 12 meter dan diameternya 4,8 meter. Musium Rekor Indonesia (MuRI) menyatakan, knalpot buatan perajin Purbalingga terbesar di dunia. Penghargaan ini diberikan karena berdasarkan riset MuRI, di negara mana pun belum pernah dibuat knalpot dengan ukuran dan berat seperti di Purbalingga.
                                             
Knalpot raksasa ala perajin Purbalingga terbuat dari bahan platser. Dikerjakan oleh 10 orang perajin selama 17 hari dengan menghabiskan biaya sampai Rp 18 juta.


2. Sanggul Raksasa Terbesar di Dunia


Sanggul Raksasa karya warga desa Karangbanjar

Pada tahun 2003 juga, sebuah sanggul raksasa berukuran 3 x 2,8 meter juga dipamerkan dalam Pawai HUT Purbalingga.

Konde raksasa seberat 170 kilogram itu dibuat selama 19 hari oleh 12 warga Desa Karangbanjar dan menelan biaya sebesar Rp 15 juta. Bahan baku rambut sebanyak 125 kilogram, kain sepanjang 45 meter, dan bahan-bahan lainnya, seperti cat, tusuk konde, dan hair spray sebanyak 30 kilogram. Saat dipamerkan, sanggul raksasa ini tetap memancarkan keanggunan meski tentu saja tak seorang pun akan mengenakannya.


3. Buruh Memakai Kebaya di Hari       Kartini


Tetap bekerja memakai Kebaya

Pada peringatan Hari Kartini, 21 April 2016, Purbalingga kembali mencatatkan rekor MURI dengan tajuk pemakaian kebaya terbanyak oleh buruh. Buruh yang ikut dalam kegiatan tersebut mencapai 12.956 orang dari empat pabrik rambut palsu.

Eksekutuf Manager MuRI, Sri Widayati mengatakan, rekor yang terciptakan kali ini merupakan rekor dunia untuk kategori pekerja wanita terbanyak yang tetap melakukan aktifitasnya saat mengenakan kebaya.

Saturday, April 29, 2017

Purbalingga kota Industri yang Mendunia

Foto di depan Pabrik Rambut Palsu


Mungkin kita lebih sering mendengar kota Tangerang sebagai kota dengan julukan kota industri. Dan Karawang Jawa Barat sebagai daerah industri yang banyak bergerak di bidang otomotif.



Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yaitu Purbalingga juga tidak boleh dikesampingkan. Walaupun industri di Purbalingga belum banyak dketahui khalayak ramai, namum produk - produknya sudah mendunia.  

Ketika Hari Kartini di dalam Pabrik Rambut Palsu

Produk industri terbesar dari Purbalingga adalah kerajinan Rambut berupa Rambut Palsu (Wig) dan Bulu Mata Palsu. Kelebihan produk Rambut ini adalah pembuatannya yang murni menggunakan tangan (handmade). Sehingga hasilnya akan lebih rapi dan tidak sama antara 1 dengan yang lain. Karena kualitasnya yang "ok" produk rambut made in Purbalingga sudah dipakai para artis Hollywood dan diekspor ke berbagai negara.

Pembuatan Bulu Mata Palsu

Memang tidak ada label made in Indonesia di  bungkus bulu mata tersebut. Karena bulu mata tersebut diekspor ke Korea Selatan, China dan Taiwan tanpa merk. Pabrik-pabrik di Purbalingga yang mayoritas adalah milik perusahaan asing ( PMA ) yang menerima pesanan dari negara-negara tersebut. Pesanan juga berasal dari produsen alat-alat kecantikan kelas dunia seperti Eyelure ( kerap dipakai Katy Perry ),  L’Oreal ( Perancis ), Shu Uemura, MAC, Kiss, dan Maybelline.

Lebih dari 10 juta pasang bulu mata palsu setiap tahunnya dihasilkan oleh puluhan ribu buruh pabrik di Purbalingga. Sebagian besar diekspor. Dari segi produksi, Purbalingga adalah produsen nomor dua terbesar di dunia setelah Guangzhou, China.

Produk rambut ini tidak hanya memberikan kebanggaan bagi masyarakat Purbalingga, tetapi juga memberikan kehidupan. Puluhan Pabrik (PT) yang berdiri di Purbalingga dapat menyerap banyak sekali tenaga kerja. Mungkin hampir separuh jumlah buruh di Purbalingga bekerja sebagai buruh pabrik rambut. 

Ada yang bekerja di pabrik besar, ada yang bekerja di industri rumahan, bahkan ada yang mengerjakan kerajinan rambut ini di rumah. Meskipun upah di Purbalingga terbilang kecil dan belum sebanding dengan daerah industri lainya seperti Karawang dan Tangerang. Mereka tetap menggantungkan hidupnya pada kerajinan rambut. 

Pembuatan Knalpot (handmade)


Selain dari kerajinan Rambut, Purbalingga juga mempunyai produk knalpot yang juga mendunia. Produk knalpot Purbalingga ini masih buatan tangan (handmade), namun sudah bisa menembus pasar ekspor.


Sebagian besar produk knalpot ini dibuat di dusun Pesayangan, Kelurahan Purbalingga Lor. Kurang lebih 70 persen warganya menggantungkan hidup dari bisnis ini. Knalpot yang dihasilkan pun sangat variatif, berkualitas dan mampu bersaing di pasaran baik nasional maupun internasional. Pemasoknya pun tidak main-main, karya putra Purbalingga ini dipasok untuk knalpot kendaraan militer panser produksi PT Pindad. Selain itu, knalpot ini sudah masuk ke pabrikan seperti Suzuki, Toyota, Daihatsu dan juga di ekspor ke Jerman dan Dubai bahkan dipakai oleh pabrikan sekelas Mercedes-Benz.

Friday, April 28, 2017

Mengenal Museum di Purbalingga

Museum DR. R. Soegarda Purbakawatja



Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja atau Museum Soegarda merupakan museum pertama di Purbalingga. Museum ini diresmikan pada 24 April 2003 oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu bapak Mardiyanto. Museum ini terletak di jantung kota Purbalingga, tepatnya di sebelah utara alun - alun Purbalingga.


 Museum ini memiliki koleksi yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Purbalingga di masa lampau. Dan juga asal usul berdirinya Kabupaten Purbalingga.


Museum Uang



Selain di museum Bank Indonesia, kita juga bisa melihat koleksi uang dari zaman penjajahan hingga zaman modern di Museum Uang Purbalingga. Selain itu, beragam mata uang dari penjuru dunia juga ditampilkan disini. Museum Uang Purbalingga diresmikan pada 18 Desember 2008.


Berlokasi di area Sanggaluri Park atau lebih dikenal dengan taman reptile. Kurang lebih 8 km dari pusat kota Purbalingga arah Pemandian Tirto Asri


Museum Wayang dan Artefak


 

Museum Wayang dan Artefak Purbalingga diresmikan tanggal 27 Desember 2009. Museum ini masih satu area dengan Museum Uang Purbalingga yaitu di area Sanggaluri Park. Atau tepatnya di desa Kutasari, Kecamatan Kutasari, Purbalingga.


Museum ini berisi berbagai jenis wayang, dari wayang kuno hingga wayang modern. Tidak hanya itu, kita juga dapat melihat berbagai artefak yang ditemukan di sekitar Purbalingga. Sehingga kita dapat belajar sejarah kehidupan manusia pada zaman purbakala. 



Museum Usman Janatin



Museum Usman Janatin. Mungkin nama Usman Janatin lebih dikenal sebagai nama Taman Kota di Purbalingga. Museum Usman Janatin terletak di tempat kelahiran seorang marinir yang rela berkorban demi menjalankan tugas negara. Yaitu di desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Purbalingga 


Sersan Uman Janatin merupakan pahlawan dwikora  tengah melaksanakan misi Dwikora mencegah pembentukan negara negara boneka yang disebut Soekarno 'Boneka Inggris'.
Kedua anggota marinir itu melakukan pemboman perkantoran di Singapura. Namun beliau ditangkap patroli laut Singapura dan dihukum gantung oleh Singapura. Pada 17 Oktober 1968 Alm. Usman dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata

Letak Purbalingga secara Astronomis dan Geografis







Kabupaten Purbalingga adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Purbalingga. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pemalang di utara, Kabupaten Banjarnegara di timur, serta Kabupaten Banyumas di barat dan selatan.

Secara Astronomis Terletak pada 101°11" BT - 109°35" BT dan 7°10" LS - 7°29 LS" terbentang pada altitude ± 40 – 1.500 meter diatas permukaan laut dengan dua musim yaitu musim Hujan antara April – September dan musim Kemarau antara Oktober – Maret. Secara umum Purbalingga termasuk dalam iklim tropis dengan rata-rata curah hujan 3,739 mm – 4,789 mm per tahun. Jumlah curah hujan tertinggi berada di Kecamatan Karangmoncol, sedangkan curah hujan terendah di Kecamatan Kejobong. Suhu udara di wilayah Kabupaten Purbalingga antara 23.20 °C – 32.88 °C dengan rata-rata 24.49 °C.

Secara Geografis Purbalingga berada di cekungan yang diapit beberapa rangkaian pegunungan. Di sebelah utara merupakan rangkaian pegunungan (Gunung Slamet dan Dataran Tinggi Dieng). Bagian selatan merupakan Depresi Serayu, yang dialiri dua sungai besar Kali Serayu, Kali Klawing. Selain itu mengalir juga sungai besar yaitu Kali Pekacangan. Sungai kecil juga ada yaitu seperti Kali Gringsing yang membelah pusat kota Purbalingga, Kali Gintung, Kali Gemuruh dan anak sungai lainnya. Ibu kota Kabupaten Purbalingga berada sekitar 21 km sebelah timur laut Purwokerto.






Owabong dan Sejarahnya Singkatnya

instagram:@owabong Obyek Wisata Air Bojongsari atau disingkat 'Owabong' sudah dikenal hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah, s...